You are here : Home > Selingan > Kuliner
Bandung Kini, Lautan Kuliner (1)
15 April 2013 | 1558 kali dibaca
Kota Bandung tengah bersalin rupa. Pertumbuhan bisnis kuliner di Kota Kembang ini kian marak. Buktinya, restoran dan kafe bertebaran di hampir setiap sudut kota. Mengubah wajah Bandung menjadi lautan kuliner.

Intisari-Online.com - Soal kuliner, Bandung memang punya segalanya. Beberapa produk makanan tertentu lekat dengan Bandung, kota asalnya. Sebut saja, misalnya, roti Katika Sari, Brownies Amanda, Keripik Ma Icih, Keripik Dutawalli, dan lain-lain. Ini tak lepas dari inovasi makanan yang dilakukan para pelaku bisnis di Kota Kembang tersebut.

Belakangan, industri kuliner di Bandung kian bergairah seiring bermunculannya sentra-sentra kuliner baru. Banyak lokasi di berbagai sudut kota yang kini disulap menjadi kawasan kuliner. Tentunya dengan berbagai menu hidangan dan penyajian yang unik dan cita rasa yang tajam. Bahkan di kawasan Bandung Utara atau Punclut sekalipun, para pelancong tak perlu khawatir dengan isi perut. Di situ, kini banyak tempat-tempat makan yang menawarkan menu lokal.

Turun sedikit ke kawasan Dago atau Jalan Setiabudi, kita akan mendapati pemandangan serupa. Hanya saja, di kawasan ini lebih banyak terdapat kafe-kafe bernuansa modern. Begitu pula menu yang disajikannya. Menariknya, tak sedikit di antara mereka yang menempati bangunan berasitektur klasik peninggalan zaman kolonial. Contoh, Kafe Rumah Ugi di Jalan Sawunggaling No. 2. Kafe ini menempati sebuah rumah yang dulu dirancang dan ditempati oleh C.P Wolff Schoemaker, arsitek Belanda yang juga mengarsiteki Gedung Merdeka dan banyak bangunan lain yang kini menjadi heritage kota bandung. Ada juga yang tetap bersetia dengan makanan lokal sebagai menu andalannya. Tengok misalnya, Ikan Pesmol Cianjur atau Sapu Lidi di bilangan Jalan Setiabudhi dan Jalan Sersan Bajuri. Kedua tempat makan ini bersetia dengan menu tradisi masyarakat Sunda.

Memang, wajah kota Bandung saat ini mengalami perubahan drastis. Sentra-sentra kuliner banyak bermunculan, terutama di kawasan Bandung Atas. Dalam soal kuliner, Bandung bisa dibilang punya segalanya. Hal tersebut diakui Pratiwi, mojang asal Solo yang sudah 3 tahun menetap di Bandung. Menurut dia, makanan khas Bandung, selain punya cita rasa yang unik juga lebih variatif. Beberapa makanan tradisional pun dimodifikasi sedemikian rupa, baik dari segi bentuk, bahan, dan rasa, hingga terkesan modern. Sebut saja, misalnya, Batagor Riri, Yoghurt Cisangkuy, Cendol Elizabeth, Brownies Kukus, Cireng Keju, dan lain-lain. “Pegiat usaha kuliner Bandung tampaknya terus berinovasi dalam makanan,” kata Tiwi.

Tentunya hal ini membuat para pelancong tak perlu khawatir dengan isi perut. Ada banyak pilihan menu dan varian harga. Untuk bermalam pun tak perlu linglung. Kini hotel, wisma (guest house), dan tempat penginapan lain banyak bertebaran.

Bila kita menyusuri Jalan Cihampelas, misalnya, kawasan yang dulu banyak dipadati toko jin di kanan kiri jalan itu telah berubah. Sebagai gantinya, kini hotel, penginapan, dan kafe serta rumah makan banyak bertebaran di situ. Titik yang paling rame di kawasan ini adalah Cihampelas Walk (Ciwalk) dan Paris van Java di Jalan Sukajadi. Tempatnya memang menyerupai mal, banyak gerai yang menyajikan santapan. Tapi konsepnya agak lain lantaran ada semacam ruang publik di tengah-tengahnya. Di mata warga Bandung dan para pelancong, belakangan tempat ini paling banyak digemari.

Related Articles
18 Agustus 2014 | 82 kali dibaca
18 Agustus 2014 | 84 kali dibaca
18 Agustus 2014 | 89 kali dibaca
Comments
comments powered by Disqus
Kebijakan Privasi | Ketentuan Layanan | Tentang Kami

Copyright © www.gramediamajalah.com
All Right Reserved 2014